Selasa, 31 Maret 2015

Ayah dalam pendidikan anak..



Ayah…kau sangat berarti…


Berbicara tentang pendidikan anak, tidak pernah ada habisnya dan objek utama selain anak adalah keterlibatan orang tua dalam mendidik ananda. Pendidikan, tidak hanya berbicara lembaga formal. Tapi juga berkaitan dengan perang orang-orang sekitar ananda, lingkungan, serta komitmen orang tua pada pendidikan ananda. Pesan Ki Hajar Dewantara : “Pokoknya pendidikan harus terletak dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasny, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas.” (Pendidikan, 382)

Nah…ayah…ayah pun memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses pendidikan ananda. Keterlibatan ayah sejak awal pada keberadaan dan kesejahteraan ananda memiliki dampak yang positif baik bagi ayah maupun bagi anak. Anak-anak yang cukup matang secara emosi, memahami bagaimana dan kapan mengekspresikan emosi secara tepat, dipengaruhi oleh keterlibatan ayah dalam proses pengasuhannya.

Ayah berperan sebagai figur, contoh dan panutan. Kehadiran ayah sangatlah penting bagi anak, bahkan sejak dalam kandungan. Ketika bayi mulai lahir, keterlibatan ayah dalam perawatan juga membuat terciptanya kelekatan hubungan antara ayah dan anak. Dan ini disinyalir akan membentuk karakter positif bagi ayah dan anak tersebut.

Ayah..juga berperan penting dalam menghapus buta huruf dini. Seorang ayah yang memiliki kesempatan dan waktu untuk membacakan sebuah cerita untuk anaknya akan merangsang anak untuk banyak bertanya, berdiskusi dan berkomunikasi. Hal inilah yang terpenting bagi perkembangan bahasa anak.

Dalam Islam, ayah memiliki peran pendidik dan penanggungjawab keluarga. Sebagai pendidik, ayah haruslah mengajak anak-anaknya untuk mengenal nilai-nilai, memberikan teladan bagaimana bersikap baik dan mengarahkan untuk menjadi pribadi yang nantinya mampu memberikan kemanfaatan bagi umat. Sebagai penanggungjawab, seorang ayah, bertanggungjawab sepenuhnya atas perilaku anaknya baik yang positif maupun yang negatif, secara hukum didunia dan diakhirat.

Jadi…seorang anak selalu membutuhkan sosok ayah..
Maka ayah…selalu jadi yang terbaik ya buat sang anak…
Semangaaattt...

Sabtu, 28 Februari 2015

Idealisme



IDEALISME?? ..Bagaimana menyikapinya..

Hasil sharing sore bersama sahabat lama…terimakasih..

Sebagai seorang individu, bahkan manusia yang berpendidikan, kita memiliki idealisme tersendiri dalam menyikapi sebuah sistem atau fenomena masalah. Kita memiliki argumen-argumen tertentu berdasarkan pemikiran dan mungkin sedikit pengetahuan kita tentang hal tersebut. Dan kita berupaya mempresentasikannya dalam sikap, berbicara bahkan mungkin tingkah laku yang kita rasa dapat mengungkapkan idealisme kita.

Sebagai makhluk sosial, kita tidak terlepas dalam hubungan dengan manusia lain. Bahkan kita ada didunia ini pun melibatkan Ibu dan ayah kita. Manusia lain bukan?..ketika idealisme kita bertabrakan dengan idealisme orang lain, bagaimana sikap kita?
Mempertahankan mati-matian?
Bersikap fleksibel dan menyesuaikan?
Atau kita membunuh idealisme kita?

Sudah jamak dipahami bahwa manusia yang berhasil relasi sosialnya adalah ia yang dapat diterima. Penerimaan terhadap orang tersebut bukan tanpa alasan, tapi bagaimana orang tersebut membawa diri dan idealismenya sebagai sebuah paket yang nyaman didengar dan dipandang orang merupakan alasan terpenting bagi orang tersebut untuk dapat diterima dan dikenang

Mempertahankan idealisme mati-matian, dapat berbagai macam caranya. Ada yang memang ia memaksa sebagian orang mengikuti keinginannya atau ia memilih mengundurkan diri dari komunitasnya dalam rangka mempertahankan idealismenya.
Keduanya pilihan, ketika kita memaksa, refleksikan itu dalam diri anda. Apakah memang idealisme yang anda pertahankan itu benar-benar prinsip dan memiliki dasar yang kuat. Kalau dalam dunia ilmiah adalah memiliki evidence based. Karena kita kita mantap beridealisme ria dan kukuh memegangnya, dia akan menguasai diri kita, sehingga manifestasi yang nampak oleh orang lain adalah ”kita merasa sangat benar”. Bagaimana ketika ada disekitar kita, kita menjumpai orang yang demikian?

Menurut saya, sangat tidak nyaman bertemu dengan orang tersebut. Bisa jadi akan muncul bentuk-bentuk agresivitas yang dapat merusak hubungan. Ataupun ketika kita memilih meninggalkan komunitas dengan tujuan mempertahankan idealisme, kita harus dapat memastikan bahwa pilihan kita pun memiliki dasar prinsip yang tepat

 
 
Dan manusia adaptiflah yang mampu bertahan dalam perang idealisme tersebut. Ia mampu secara asertif mengungkapkan idealismenya namun bersikap fleksibel dan mengelola emosinya untuk dapat menerima perbedaan idealisme. Ia akan menggunakan cara-cara yang benar dan tepat dalam menyampaikan keinginannya tanpa bermaksud secara revolusioner mengubah cara pandang ataui sebuah sistem untuk dapat menerima ide-idenya. Kita merasa benar tapi bukan paling benar. Kita memiliki pendapat, tapi orang lain pun mempunyai hak yang sama berpendapat. Akibatnya adalah saling menghormati dan menghargai. Sehingga tercipta sebuah hubungan yang harmonis.

Membunuh idealisme menjadi pilihan yang kurang tepat ketika kita belum mengungkapkannya secara baik. Karena pelan tapi pasti kita menjadikan pemikiran kita tidak berkembang dan tidak kritis memandang sebuah permasalahan. Kita hanya mengikuti secara buta apa pendapat orang tanpa kita tahu apa sebenarnya keinginan kita.

Jadi tidak ada salahnya kita belajar mengembangkan asertivitas dalam mengungkapkan idealisme. Karena mempertahankan dengan cara tidak benar akan banyak melukai komunitas. Dan membunuhnya berarti melukai diri sendiri.

Selamat belajar..... 

Rabu, 11 Februari 2015

Benteng Iman



BENTENG IMAN…

Malam itu situasi cerah, kondisi yang tidak biasanya mengingat setiap sore hingga malam kota kami diguyur hujan. Alhamdulillah kami bisa mennghadiri kajian yang cukup bermanfaat dan recharge iman serta menambah wawasan.

Kajian dimulai bakda isya’, setelah kami tuntas menunaikan ibadah sholat isya’ berjamaah. Dibuka dengan lantunan sholawat dan iringan rebbana mengingatkan kami untuk selalu bersholawat pada sosok mulia yang telah dipilihNya mengajak kita semua mengikuti Islam. Dengan santun akhlaknya menjadikan contoh bagi kita semua untuk terus dan terus memperbaiki diri. Maha Suci Allah yang Menghadirkan sosok Mulia Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Tiba saat yang dinanti, KH. Imam Hambali, pengasuh ponpes mahasiswa Al Jihad Surabaya, memulai kajiannya. Sungguh sosok yang tawadhu’ dan down to earth penampilannya. Sosok yang biasanya terbatas kami dengarkan suaranya melalui radio atau kami lihat di televise swasta Surabaya. Dibuka dengan salam dan sedikit ramah tamah alhamdulillah sepanjang beliau menyampaikan kajian audience tampak antusias dan tidak mengantuk.

Beliau mengawali kajian dengan menceritakan saat-saat diusirnya setan dari surga, dikarenakan kesombongannya. Saat akan diusir, setan mengajukan permintaan kepada Allah dan dikabulkan. Permintaannya yaitu :
1. Tidak meninggal hingga kiamat (berumur panjang)
2. Mengajak sebanyak-banyaknya kaum Adam untuk menjadi temannya di Neraka. Terkecuali mereka yang mampu menjaga keikhlasan dalam hatinya.
 

Keikhlasan sangatlah terkait dengan keimanan dalam diri seseorang. Meski semua adalah hidayah dan anugrah Allah untuk terus memegang keimanan dan keislaman serta mampu bersikap ikhlas, namun KH. Imam Hambali kemarin membagi tips untuk kiranya kita dapat menjaga keimanan kita. Atau lebih pasnya disebut benteng Iman. Diantara benteng Iman adalah :
  1. MASJID. Frekwensi hadir di masjid sangat membantu kita untuk terus mengingat dan beribadah kepada Allah. Setidaknya kita membentengi diri dengan bentuk-bentuk ibadah yang istiqomah ketika kita menautkan hati kita pada masjid
  2. AL QUR’AN. Al Quran sebagai Kalam Allah akan membantu kita untuk kembali mengingat dan memahami petunjuk-petunjuk Allah. Aturan-aturan dalam agama kita. Dan banyak disebutkan bahwa dengan membaca Al Quran akan membawa keajaiban dan kemuliaan bagi pembacanya.
  3. DZIKRULLAH. Jelas disini, benteng iman yang ketiga adalah terus mengingat Allah. Menyebut kalimat-kalimat thoyyibah yang dicontohkan Rasul.

Dan kemudian KH. Imam Hambali terus menegaskan bahwa kita wajib secara bersama-sama, kompak, bersatu padu memakmurkan masjid sebagai ikhtiar kita membentengi iman. Abaikan perbedaan, selama secara aqidah masih mengaku Islam, kita wajib bertoleransi dan bersikap ramah. 

Kajian ditutup dengan doa dan kembali diiringi sholawat untuk mengantar tamu-tamu pulang kembali kerumahnya. Semoga bermanfaat.

Kamis, 05 Februari 2015

Home sweet home...



RUMAHKU ISTANAKU...



Sering kita mendengar istilah diatas..bahkan ada yang menyampaikan bahwa itu adalah sebuah hadist atau istilah yang pernah digambarkan Nabi Muhammad SAW. Maksud dari istilah diatas adalah bagaimana sebuah rumah menjadi nyaman bagi penghuninya, menjadi sebuah tempat pulang dan berkumpul lagi yang membawa kedamaian bagi orang yang tinggal di rumah tersebut.
Kadang kita membayangkan sebuah rumah yang nyaman adalah yang cukup fasilitas, lapang dan penuh dengan perabot yang kita butuhkan. Namun banyak kisah sinetron yang tidak mencontohkan seperti itu. Bahkan dalam kehidupan sehari-haripun sering kita temui berbagai kisah pilu yang berasal dari penghuni rumah gedongan.
Rumah yang membuat penghuninya tidak betah, lebih banyak menghabiskan waktu di luar dan kembali ke rumah hanya untuk tidur. Rumah yang tanpa gelak tawa, canda kemesraan serta tangisan bahagia orang-orang didalamnya. Padahal gedung yang ada cukup layak, lebih dari sekedar tempat untuk tidur dan sangat memungkinkan orang-orang nyaman dan berinteraksi serta betah didalamnya. Tidak jarang kita menjumpai rumah seperti itu.
Namun ada juga sebuah cerita, rumah yang tidak begitu bagus, namun orang-orangnya sangat nyaman, selalu merindukan rumahnya dan tidak akan bisa tidur nyenyak jika bukan di rumahnya. Bahkan penghuninya selalu membanggakan rumahnya.
Rumah yang selalu dirindukan, di jaga rapi dan dipelihara. Berisian kekompakan sebuah keluarga. Rumah yang menjadikan setiap penghuninya merasakan kedamaian yang tidak mungkin dapat ditemukan di tempat lain, sekalipun tempat lain tersebut lebih segalanya jika dibandingkan rumahnya.
Tipe bagaimanakah rumah kita?
Selanjutnya adalah saya ingin berbagi hasil taklim saya dengan Ust. Junaidi Sahal tentang bagaimana supaya rumah kita membawa kedamaian bagi peghuninya..
1.    Melakukan ibadah di rumah.
Rasul menganjurkan untuk melakukan sholat sunnah di rumah. Karena dianggap sholat sunnah sebagai hak dari rumah. Dengan sholat sunnah dirumah, kita memiliki kesempatan untuk beribadah di rumah.
2.    Membaca Al Qur’an di rumah
Membaca Alqur’an berarti kita berdzikir kepada Allah, mengingat Allah. Dengan berdzikir di dalam rumah, kita menghidupkan rumah kita.
Demikian sharing saya semoga bermanfaat....

Rabu, 04 Februari 2015

Direktorat Keayahbundaan



Menyambut Gembira Direktorat Keayahbundaan

Salah satu tujuan menikah adalah memiliki anak. Memiliki anak, menjadikan setiap pasangan menjalani peran sebagai orang tua. Galau menjadi orangtua seringkali dialami oleh setiap pasangan yang merencanakan memiliki anak atau sedang menanti kehadiran anak. Sanggupkah mengasuh, mendidik dan mengantarkan ananda menjadi “seseorang” yang nantinya membanggakan orang tua.
Perjalanan hidup sebagai orang tua memang berliku. Banyak hal-hal yang kadang diluar perkiraan dan perencanaan yang terjadi dalam perjalanannya. Tidak jarang hal tersebut menjadi kendala dan kesulitan tersendiri bagi orang tua.
Membayangkan ketika anak memunculkan perilaku diluar kebiasaan atau norma, pasti berbagai macam reaksi muncul pada orang tua. Diantaranya malu, langsung mencegah atau memarahi bahkan ada yang langsung pergi bersama anaknya.
Memperlakukan anak memang membutuhkan seni tersendiri. Karena setiap anak lahir dengan karakter dan keunikan masing-masing. Meski mereka bersaudara atau kembar, masing-masing membutuhkan sentuhan pendidikan yang berbeda. Dan sekali lagi menjadi orang tua membutuhkan banyak tenaga dan kepedulian.
Keadaan ini memang bukan sepenuhnya kesalahan pasangan, namun sistem pendidikan yang ada selama ini kurang mempersiapkan seseorang menjalani profesi orang tua. Profesi orang tua dianggap sebagai sampingan dan masing-masing orang dituntut untuk mampu belajar secara otodidak ataupun secara tidak langsung mencontoh pola didik orang tuanya terdahulu.
Maka saya menyambut bahagia adanya direktorat keayahbundaan yang digagas Mendikbud saat ini. Wadah itu merupakan sarana resmi orang tua untuk belajar, sharing dan mengukur kemampuan dirinya menjadi orang tua yang ”tepat” bagi anaknya. Bahkan dalam angan-angan saya direktorat ini dapat bekerjasama dengan Rumah Sakit Bersalin, dalam rangka membekali calon-calon orang tua atau bahkan KUA, yang dapat membekali calon mempelai dengan menyiapkan secara psikologis para calon ayah dan bunda.
Sambil menunggu direktorat tersebut launcing, menurut beberapa referensi yang saya baca, saya menarik kesimpulan bahwa satu hal yang merupakan kunci untuk dapat tetap menjalani peran sebagai orang tua dengan nikmat adalah rasa syukur dan cinta. Syukur karena kita memiliki kesempatan untuk mendapatkan amanah dan kesempatan membuktikan peranan kita sebagai khalifah dimuka bumi. Dan cinta sebagai dasar kita untuk mengembangkan sikap sabar dalam menghadapi setiap tingkah ananda.
Tidak setiap yang menginginkan seorang anak mendapat kepercayaan dan ketika kita mendapat kepercayaan sebagai orang tua, esensinya adalah kita meyakini akan dimampukan oleh Yang Memberi dan Mempercayakan.
Mengutip tulisan pak Munif Chatib :” Menjadi orang tua..tidak hanya taqdir, namun seperti hadirnya sebuah kesempatan untuk membuktikan peranan kita dimuka bumi , meneruskan rencana ilahi, mewarnai anak-anak dengan cinta. Lalu biarkan siklus berputar sampai zaman ditamatkan”..mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dan optimis bahwa setiap kesempatan, meski dengan resiko yang ada merupakan sarana pembelajaran bagi kita untuk menjadi insan yang lebih baik dan berguna.
Jadi...Jangan takut menjadi orang tua dan jangan pernah putus asa belajar menjadi orang tua yang ”tepat” untuk anak-anak kita....

Rabu, 31 Desember 2014

Best Friends is important



BALANCING LIFE WITH OUR BEST FRIENDS


Dalam hidup selalu ada tantangan. Setiap saat kita menjalani kehidupan dengan berbagai macam rasa. Kadang senang, tertantang, bangga karena mencapai sesuatu, bahagia karena telah berbagi, terharu menyaksikan sebuah pengorbanan, sedih telah gagal atau bahkan terpuruk karena tidak mampu menerima kenyataan. Rasa itu silih berganti menghampiri kita.
Sebagai insan yang tidak stabil, perubahan rasa itu kadang memberikan pengaruh yang luar biasa dalam menjalani hari. Ketika kita bahagia, sepertinya kehidupan berjalan indah dan jiwa kita dipenuhi optimistis menyongsong hari esok. Namun ketika kita sedang terluka atau sedih, membutuhkan perjuangan untuk menatap hari esok yang panjang dan penuh tantangan.
Pilihan ada ditangan kita, mau terus berlama-lama dalam perasaan yang kurang menyenangkan tersebut atau haruskan kita mengalihkannya dan mencari hal-hal yang dapat menyeimbangkan kondisi kita yang sedang tidak yakin..
Disinilah pentingnya bersahabat..kepada sahabat yang sudah kita kenal dan mengenal kita, kita akan menemukan kenyamanan dalam bercerita dan menumpahkan semua rasa yang ada. Bahkan gejolak ekspresifpun kadang membantu kita sejenak untuk keluar dari berbagai rasa tidak nyaman. Dan kepada sahabat, kita dapat memohon dukungan untuk menguatkan kita, membantu kita bangkit mengatasi semua..bahkan dengan seuntai doa yang tulus dari sahabat terkasih kita, kita menemukan kedamaian.
Meski tidak selamanya bergantung pada sahabat, namun hadirnya sahabat seperti candu. Atau seperti antinyeri yang siap menghilangkan rasa sakit meski sementara. Memulihkan energi untuk menyongsong tantangan yang lain yang akan mengantarkan kita meraih sebuah nilai tertentu dalam hidup.

Say thanks to our best friends, they like a killer pain for our sadness and than meet best friends is our balancing life…



Sabtu, 20 Desember 2014

Resume Buku Filsafat



RESUME BUKU
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

BAB I. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Filsafat Pendidikan
Filsafat secara bahasa diartikan sebagai cinta kebijaksanaan. Disisi lain Filsafat dapat diartikan sebagai pola berpikir dengan ciri-ciri tertentu, yakni kritis, sistematis, logis, kontemplatif, radikal dan spekulatif.
Filsafat pendidikan Islam mengkaji hakikat dan seluk beluk pendidikan yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah, merumuskan berbagai pendekatan proses pembelajaran, merumuskan strategi pembelajaran, kurikulum, dan sistem evaluasi pendidikan dengan landasan yang digali dari ajaran Islam, serta mengkaji maksud dan tujuan pendidikan Islam yang khusus maupun yang umum, yang temporal maupun yang eternal.
B. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan
            Filsafat pendidikan Islam merupakan pengetahuan yang memperbicangkan masalah-masalah pendidikan Islam. Ruang lingkup filsafat pendidikan tidak jauh dari beberapa hal dibawah ini:
1.            Hakikat para pendidik dan anak didik
2.            Hakikat materi pendidikan dan metode penyampaian materi
3.            Hakikat tujuan pendidikan dan alat-alat pendidikan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan
4.            Hakikat model-model pendidikan
5.            Hakikat lembaga formal dan nonformal dalam pendidikan
6.            Hakikat sistem pendidikan
7.            Hakikat evaluasi pendidikan
8.            Hakikat hasil-hasil pendidikan.
Dalam filsafat pendidikan Islam, selain ruang lingkup diatas terdapat substansi pendidikan yang sangat penting,bahkan menentukan nilai sebuah proses pendidikan, yaitu :
1.      Al Quran dan As Sunnah sebagai sumber ajaran dalam pendidikan Islam
2.      Akhlak Nabi Muhammad SAW, yang dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga untuk membentuk akhlak anak didik
3.      Keimanan kepada seluruh ajaran Islam yang dapat diterima oleh hati dan akal yang sehat
4.      Kehidupan dunia yang oleh ajaran Islam dibebaskan pengembangannya
5.      Alam semesta yang diciptakan untuk kemakmuran manusia
6.      Baik dan buruk
7.      Pahala dan dosa
8.      Ikhtiar dan takdir yang menjadi bagian dari rencana kehidupan manusia dan kehendak Allah yang pasti adanya.
Pada akhirnya pemahaman ruang lingkup filsafat pendidikan Islam berkaitan dengan pendekatan yang diterapkan adalah sebagai berikut :
1.      Ontologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat substansi dan pola organisasi ilmu pendidikan Islam. Secara ontologis, pendidikan Islam adalah hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk yang berakal dan berpikir
2.      Epistimologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat objek formal dan materi ilmu pendidikan Islam. Objek formal dan materi pendidikan islam merujuk pada nilai-nilai Al Quran yang universal dan abadi.
3.      Metodologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu pendidikan Islam. Strategi yang relevan , yang dilakukan oleh pendidikan untuk menyampaikan materi pendidikan Islam lepada anak didik.
4.      Aksiologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat nilai kegunaan teoritis dan praktis ilmu pendidikan Islam. Hal ini berkaitan dengan visi dan misi, etika,estetika, tujuan dan target yang akan dicapai dalam pendidikan.

BAB II. KEDUDUKAN ALAM SEMESTA, MANUSIA, MASYARAKAT, DAN ILMU PENGETAHUAN PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
A. Kedudukan Alam Semesta
            Allah sebagai Pencipta, pemilik kasih sayang untuk segenap makhlukNya. Alam ini tercipta sebagai bukti dari kasih sayang Allah untuk manusia. Alam tunduk mutlak pada hukum-hukum Allah. Semua alam yang berjalan sesuai dengan hukumnya menjadi subjek sekaligus objek pendidikan dan pembelajaran.
            Belajar dari alam semesta adalah tujuan hidup manusia dan secara filosofis kedudukan alam semesta bagaikan guru dengan muridnya, pendidik dengan anak didik, bahkan alam semesta bagaikan literatur yang amat luas dan kaya dengan informasi yang aktual.
            Kedudukan alam semesta dalam perspektif pendidikan Islam adalah sebagai guru yang mengajar kepada manusia untuk bertindak sesuai hukum-hukum yang digariskan Tuhan. Manusia dapat mengambil pelajaran dari alam semesta ini. Manusia harus memanfaatkan akalnya untuk berpikir tentang pemberdayaan alam bagi manusia.
B. Kedudukan Manusia dan Ilmu Pengetahuan Perspektif Pendidikan Islam
   Setiap manusia memiliki pengetahuan karena setiap manusia pernah mengalami sesuatu, dan setiap pengalamannya dijadikan landasan berpikir dan bertindak. Pengetahuanpun dapat berasal dari adanya gagasan dalam pemikiran manusia, gagasan muncul tidak terlepas dari adanya realitas.
Ilmu pengetahuan adalah kebutuhan mutlak manusia. Diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat kemanusiaan. Manusia membutuhkan ilmu pengetahuan untuk menjangkau kehidupan duniawai dan uhrowinya. Derajat kehidupan manusia akan sangat ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan yang dimilikinya wajib dilindungi oleh keimanan. Ilmu dan iman adalah kajian mendasar dari filsafat pendidikan Islam, yang hakikatnya, semua ilmu digunakan untuk memperkuat keimanan dan keimanan harus terus ditingkatkan oleh ilmu pengetahuan.
C. Kedudukan Masyarakat dalam Filsafat Pendidikan Islam
Dalam perspektif  filsafat pendidikan Islam, proses saling belajar yang dapat berlaku di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat merupakan perjalanan kebudayaan manusia dalam mencerdaskan dirinya, meningkatkan kesadarannya sebagai makhluk yang berbudi luhur, makhluk yang belajar memahami keinginan manusia yang beragam.
Tujuan utama pendidikan Islam yang diperoleh anak didik dibangku sekolah adalah agar dimanfaatkan untuk kehidupan bermasyarakat. Belajar ilmu pengetahuan bertujuan membentuk akhlak mulia yang nantinya akan terbangun masyarakat yang berakhlak mulia. Masyarakat berakhlak mulia terbentuk dari kemuliaan akhlak individu-individu yang membangunnya.
Kedudukan masyarakat dalam perspektif filsafat pendidikan Islam dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Masyarakat adalah guru bagi semua manusia yang memiliki kemauan mengambil pelajaran didalamnya.
2.      Masyarakat adalah subjek yang menilai keberhasilan pendidikan.
3.      Masyarakat adalah tujuan bagi semua anak didik yang telah belajar di berbagai lingkungan.
4.      Masyarakat adalah ujian paling sulit bagi aplikasi hasil-hasil pendidikan.
5.      Masyarakat adalah cermin keberhasilan atau kegagalan dunia pendidikan.
6.      Masyarakat adalah etika dan estetika pendidikan.

BAB III. HAKIKAT PENDIDIKAN DAN ETIKA KEILMUAN
A. Pengertian Pendidikan
            Pendidikan berasal dari kata didik, artinya bina, mendapat awalan pen-, akhiran –an,,yang maknanya sifat dari perbuatan membina atau melatih, atau mengajar dan mendidik itu sendiri. Oleh karena itu pendidikan merupakan pembinaan, pelatihan, pengajaran dan semua hal yang merupakan bagian dari usaha manusia untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilannya.
            Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain, pendidikan tidak hanya berlangsung dalam kelas, tetapi berlangsung pula diluar kelas. Pendidikan bukan hanya formal, namun  juga nonformal. Secara subtansial, pendidikan tidak tetrbatas pengembangan intelektual manusia, artinya tidak hanya meningkatkan kecerdasan, melainkan mengembangkan seluruh aspek  kepribadian manusia. Pendidikan merupakan sarana utama untuk mengembangkan kepribadian setiap manusia.
B. Hakikat Pendidikan
Hakikat pendidikan menjangkau 4 hal yang sangat mendasar, yaitu :
1.      Pendidikan pada hakikatnya adalah proses pembinaan akal manusia yang merupakan potensi utama dari manusia sebagai makhluk berpikir.
2.      Pendidikan pada hakikatnya adalah pelatihan keterampilan setelah manusia memperoleh ilmu pengetahuan yang memadai dari hasil olah pikirnya.
3.      Pendidikan dilakukan di lembaga formal dan nonformal, sebagaimana dilaksanakan di sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat.
4.      Pendidikan bertujuan mewujudkan masyarakat yang memiliki kebudayaan dan peradaban yang tinggi dengan indikator utama peningkatan kecerdasan intelektual masyarakat, etika dan moral masyarakat yang baik dan berwibawa, serta terbentuknya kepribadian yang luhur.
Hakikat pendidikan dalam Islam adalah kewajiban mutlak yang dibebankan kepada semua umat Islam, bahkan kewajiban pendidikan atau mencari ilmu dimulai semenjak bayi dalam kandungan hingga masuk ke liang lahat.
C. Hakikat Pendidik
            Pendidik, disebut guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan. Guru adalah figur manusia yang diharapkan kehadiran dan perannya dalam pendidikan, sebagai sumber yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan.
            Hakikat Pendidik adalah Guru, digugu dan ditiru. Pendidik atau guru adalah contoh terbaik bagi murid-muridnya yang menjadi anak didik. Dalam interaksi edukatif yang berlangsung antara pendidik dan anak didik, terjadi interaksi yang bertujuan. Tujuan yang diingin dicapai sebagai tujuan mulia pendidikan.
D. Hakikat Anak Didik
            Hakikat anak didik terdiri dari beberapa macam :
1.      Anak didik adalah darah daging sendiri, orang tua adalah pendidik bagi anak-anaknya.
2.      Anak didik adalah semua anak yang berada dibawah bimbingan pendidik di lembaga formal.
3.      Anak didik secara khusus adalah orang-orang yang belajar di lembaga pendidikan tertentu yang bertujuan menimba ilmu kependidikan.
Anak didik merupakan subjek utama dalam pendidikan. Tugas utama anak didik adalah belajar, menuntut ilmu dan mempraktikkan ilmu pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.

BAB IV. ETIKA KEILMUAN DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
A. Etika Pragmatis dalam Pendidikan Islam
            Etika dalam kajian filsafat merupakan bagian dari aksiologi karena etika berbicara tentang tujuan yang hendak dicapai dalam segala sesuatu. Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu adalah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
            Pragmatisme filsafat pendidikan Islam adalah tujuan pendidikan Islam. Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk anak didik yang bertakwa kepada Allah berkepribadian luhur, berilmu pengetahuan luas, terampil dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Pragmatisme menegaskan bahwa pendidikan Islam diberikan kepada anak didik agar memiliki keahlian duniawi dan ukhrawi. Keduanya harus memberikan keuntungan.
 B. Positivisme dalam Etika Keilmuan
            Etika keilmuan yang menganut positivisme akan mempertegas tentang kebenaran pengetahuan terletak pada konkret dan indrawi. Namun etika keilmuan yang dibangun oleh filsafat pendidikan Islam tidak menganut paham positivisme, meskipun mengakui kebenaran yang menggunakan paham tersebut. Dalam Islam, kebenaran yang hakiki hanya kebenaran Tuhan, selain kebenaran Tuhan, hanyalah kebenaran nisbi. Kebenaran nisbi diyakini sebagai cara menuju kebenaran hakiki.
C. Etika Keilmuan pada Zaman Renaisance dan Humanisme
            Pada zaman renaisance muncul dua paham dalam etika keilmuan yaitu rasionalisme dan humanisme. Etika keilmuan yang menganut paham rasionalisme tidak mempertimbangkan kebenaran atas dasar nilai-nilai sakral dalam agama. Rasio adalah ukuran utama dalam menentukan kebenaran.
Sedangkan Humanisme menetapkan kebenaran berpusat pada manusia. Dalam pendidikan Islam, humanisme yang dimaksudkan adalah tentang kemuliaan manusia karena Allah memuliakannya. Kemuliaan manusia harus dibentuk oleh iman dan amal saleh. Iman adalah landasan spiritual, sedangkan amal saleh adalah perpaduan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengantarkan manusia bermanfaat bagi sekitarnya.
Perspektif Pendidikan Islam harus membangun etika keilmuan sebagai berikut :
1.      Semua ilmu bersumber dari Allah atau Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Semua Ilmu wajib digali sebanyak mungkin, karena Islam mewajibkan menuntut ilmu sejak dalam kandungan hingga meninggal.
3.      Setiap ilmu yang dimiliki harus diamalkan, meski sekecil apapun.
4.      Setiap ilmu yang dimiliki harus menjadi cahaya kehidupan dan menolong orang awam.
5.      Setiap ilmu yang dimiliki harus disebarkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan umum.
6.      Setiap ilmu yang dikembangkan harus mempermudah usaha manusia dalam mempertahankan kehidupannya dan tidak mendatangkan kemudharatan.
BAB V. HAKIKAT KURIKULUM, ALAT-ALAT PENDIDIKAN, DAN EVALUASI
A. Pengertian Kurikulum dan Hakikatnya
            Kurikulum adalah semua rencana yang terdapat dalam proses pembelajaran. Kurikulum dapat diartikan pula sebagai semua usaha lembaga pendidikan yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang disepakati.
            Aktivitas sekolah berkaitan dengan tiga tujuan yang hendak dicapai dari ranah kognitif, yakni upaya pencerdasan anak didik, ranah afektif sebagai upaya pencerdasan emosional dan ranah psikomotorik sebagai upaya pencerdasan perilaku keterampilan. Kurikulum haruslah memperhatikan semua aspek yang direncanakan dalam pendidikan yang bertujuan mencapai tiga ranah tersebut
B. Hakikat Kurikulum
            Hakikat kurikulum adalah model yang diacu oleh pendidikan dalam upaya membentuk citra sekolah dengan mewujudkan tujuan pendidikan yang disepakati. Pedoman rencana pembelajaran tidak bersifat kaku. Kurikulum yang baik adalah yang dinamis, aktual, teoritis dan aplikatif.
            Kurikulum yang dijadikan standar mutu pendidikan islam perlu memperhatikan beberapa prinsip dibawah ini :
1.      Prinsip pertautan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Seluruh rencana pengajaran yang didalamnya terdapat proses pembelajaran, materi pelajaran, tujuan, metode dan evaluasi harus berkaitan dengan nilai-nilai ajaran Islam.
2.      Prinsip Universal, yang memperhatikan semua aspek kebutuhan manusia sebagai anak didik, baik jasmani maupun rohani.
3.      Prinsip Keseimbangan. Kurikulum harus berisi rencana pengajaran yang seimbang untuk kebutuhan dunia dan akhirat.
4.      Prinsip interaksional edukatif, artinya kurikulum disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik sehingga terjadi interaktif antara rencana pengajaran dengan mentalitas dan daya berpikir anak didik.
5.      Prinsip fleksibilitas, artinya kurikulum dengan dinamis dan selalu aktual.
6.      Prinsip empiristik, artinya kurikulum tidak henti-hentinya dikembangkan dengan didasarkan pada pengalaman perkembangan dunia pendidikan, kebutuhan siswa, kebutuhan siswa, kebutuhan masyarakat, penemuan ilmiah, hasil penelitian sosial dan perkembangan situasi sosial.
C. Hakikat Alat-Alat Pendidikan
            Alat pendidikan berarti media yang dimanfaatkan untuk pendidikan. Alat pendidikan juga diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
            Beberapa alat pendidikan yang sangat penting adalah sebagai berikut :
1.      Pendidik
2.      Lembaga pendidikan
3.      Anak didik
4.      Sarana dan prasarana pendidikan
5.      Perpustakaan
6.      Kompetensi pendidik
7.      Metodologi pendidikan
8.      Manajemen pendidikan
9.      Strategi pembelajaran
10.  Evaluasi pendidikan dan evaluasi belajar
D. Hakikat Evaluasi Pendidikan
            Evaluasi pendidikan diartikan sebagai penilaian pendidikan yaitu kegiatan menilai yang terjadi dalam aktivitas pendidikan. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui keberhasilan anak didik dalam mengikuti mata pelajaran tertentu, baik yang sifatnya teoritis, metodologis, materi maupun substansinya. Yang dievaluasi adalah tiga ranah dalam tujuan pendidikan, yakni kognitif, afektif dan psikomotor.

BAB VI.  PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI SUATU SISTEM
A. Dasar-Dasar Sistem Pendidikan Islam
            Dasar sistem pendidikan Islam adalah tempat berpijak atau landasan untuk menentukan sistem pendidikan yang ada. Adapun dasar-dasar kuat sebuah sistem pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
1.      Al Quran
Al Quran merupakan dasar pendidikan Islam. Banyak ayat dan surat dalam Al Quran yang merupakan perintah atau petunjuk yang dapat digunakan untuk menyusun sebuah sistem pendidikan.
2.      As Sunnah
As Sunnah merupakan barometer keberhasilan Allah menghadirkan manusia teladan yang sempurna, yaitu Nabi Muhammad. Pendidikan yang mencerminkan teladan Nabi Muhammad adalah sistem pendidikan yang bertujuan membentuk anak didik memiliki akhlak atau perilaku seperti nabi, yaitu jujur, dapat dipercaya, mengamalkan ilmunya, menebarkan manfaat serta menjaga nama baik agama Islam.
3.      Atsar dan Ijma’ sahabat
Atsar dan ijma’ sahabat menjadi dasar pendidikan Islam. Sebagaimana dalam sejarah digambarkan bahwa para sahabat bergotong royong membangun Masjid nabawi sebagai pusat pendidikan bagi kaum muslim saat itu.
4.      Ijtihad Ulama
Ijtihad para ulama dijadikan dasar pendidikan islam, karena menurut sejarah banyak Ulama yang mendirikan dan membangun lembaga pendidikan. Ijtihad yang dijadikan dasar adalah ijtihad yang berpijak pada Al Quran dan As Sunnah.
B. Pendidikan Islam sebagai Sistem Kebenaran Universal
             Sistem pendidikan islam dan pendidikan Islam sebagai seistem adalah intergralitas anatara unsur – unsur di bawah ini ;
1. Integralitas unsur Ilahiah, alamiah dan insaniah
2. Integralitas antara hati akal dan panca indra.
3. Integralitas antara ilmu pengetahuan, hidayah, dan sumber ilmu pengetahuan.
Tiga unsur tersebut diatas harus merupakan sistem terpadu dan universal yang akan diterapkan dalam pendidikan Islam. Kebenaran universal artinya tidak mengenal situasi dan kondisi karena memiliki fleksibilitas yang tinggi, tidak mengenal kadaluwarsa karena kebenarannya bukan semata-mata materiil, melainkan juga substansional, bukan sebatas tekstual, melainkan juga kontekstual, bukan sebatas fisikal, melainkan juga metafisikal, natural dan supranatural, rasional dan suprarasional.
C. Tujuan Sistemik Pendidikan Islam
Dalam ajaran Islam, seluruh aktivitas manusia bertujuan untuk tercapainya insan yang beriman dan bertakwa. Apabila anak didik telah beriman dan bertakwa, artinya tujuannya telah tercapai.
Tujuan pendidikan Islam dapat disistemasikan sebagai berikut :
1.      Terwujudnya insan akademik yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
2.      Terwujudnya insan kamil yang berakhlakul karimah.
3.      Terwujudnya insan muslim yang berkepribadian.
4.      Terwujudnya insan yang cerdas dalam mengaji dan mengkaji ilmu pengetahuan.
5.      Terwujudnya insan yang bermanfaat untuk kehidupan orang lain.
6.      Terwujudnya insan yang sehat jasmani dan rohani.
7.      Terwujudnya karakter muslim yang menyebarkan ilmunya kepada sesama manusia.