Minggu, 14 Agustus 2016

“Hijrahku Mengenal Aku”
( sesi sharing bersama Mbak Peggy Melati Sukma)




Alhamdulillah sore ini berkesempatan menghadiri suatu pertemuan yang dihadiri oleh mbak Peggy Melati  Sukma. Awalnya bertanya-tanya, apa yang akan beliau sampaikan. Namun setelah mendengarkan ulasan beliau, cerita pengalaman beliau, masyaAllah setiap yang disampaikan sarat makna.
Awalnya beliau mengajak kita mengingat peristiwa hijrah Rasulullah Muhammad SAW. Peristiwa itu sarat akan ibrah, dimana Rasulullah sendiri menampakkan kepedihannya meninggalkan kota Makkah yang dicintainya, berjuang melawan ketakutan, menyusun strategi untuk dapat lolos dan meneguhkan diri, menguatkan keimanan pada perintah Allah SWT. Proses hijrah yang dialami Rasul mencontohkan pada kita, bahwa hijrah membutuhkan pengorbanan dan keteguhan. Bagaimana Rasulullah harus menyusun strategi untuk dapat mengelabui kaum Quraisy, ketika meminta Sayyidina Ali menggantikannya di tempat tidurnya. Bagaimana Rasulullah bertahan di gua tsur selama 3 (tiga hari) dengan keterbatasan bekal (blockade) dan terus meyakinkan Sayyidina Abu bakar tentang pertolongan Allah SWT. Bagaimana Rasulullah mencucurkan air mata menatap kota Makkah yang dicintainya harus ditinggalkan karena perintah Allah SWT. Bagaimana Rasulullah terus meneguhkan niat untuk samai di kota Madinah. Dan MasyaAllah, ketika sampai di Madinah, Allah sudah mempersaudarakan kaum Anshor dan Muhajirin. Hingga keletihan dan tantangan hijrah terbayarkan oleh suka cita kota Madinah. Selanjutnya Madinah menjadi pusat tersebarnya Islam ke seluruh dunia.
Dalam proses Hijrah Rasulullah tersebut, Mbak Peggy menyebutkan hal yang menjadi inspirasi kita sebagai kaum Muslimin adalah inspirasi Tauhid. Bagaimana Rasulullah mencontohkan meski penuh perjuangan, pengorbanan dan airmata namun beliau tetap teguh akan janji Allah. Bahwa Allah akan Membayar perjuangan hijrah kita dengan hal-hal yang membahagiakan dan keberkahan hidup melebihi sebelumnya.
Berikutnya makna hijrah yang disampaikan Rasulullah adalah perjalanan yang terus menerus menuju Allah. Hidup mempunyai pilihan, berbuat baik atau tidak baik, namun pada ujung penghidupan, kita hanya punya satu pilihan yaitu Surga Allah (Jannah). Hal itulah yang mendasari kita untuk terus menerus berhijrah dan meyakinkan diri untuk berbuat baik dan menuju kebaikan. Dalam kehidupan setiap insan selalu dihadapkan pada cobaan kebahagiaan maupun kesusahan. Tinggal bagaimana kita membuat pilihan, apakah cobaan tersebut akan membawa kita kepada Allah atau menjauhiNya. Ketika kita diuji kebahagiaan lalu kita melupakanNya, atau melalaikanNya, maka tidak lama kita akan dihadapkan pada ujian kesusahan yang ‘seharus’nya membuat kita mendekat kepada Allah SWT. Maka sejatinya, Hijrah tidak menunggu momentum. Setiap saat kita harus terus berjuang menghijrahkan diri ke arah yang lebih baik dengan terus meningkatkan ibadah kita.
Seperti halnya Mbak Peggy, yang menceritakan pengalaman dirinya, selama 20 tahun hidup berkecukupan, memiliki banyak usaha, tenar, banyak uang namun sayang hal tersebut tidak menjadikannya mendekat dan ingat kepada Allah. Selanjutnya, Allah datangkan ujian kesusahan hanya 2 tahun. Beliau menyatakan kesyukurannya, karena ujian tersebut tidak selama sebelumnya dan hal tersebut sudah mampu mengingatkanNya untuk terus kembali kepada Allah dengan memperbaiki dirinya.
Baginya, amanah tubuhnya yang harus dijaga ternyata sebelumnya dengan mudahnya ia memamerkannya. Seharusnya ia mampu menjaga sholatnya, namun karena beberapa hal, ia lalai dan mengalahkannya dengan urusan dunia. Ia juga mengakui lama meninggalkan membaca Al Qur’an. Bersikap kurang bijak pada relasi bisnisnya, bahkan ia menyebutkan diri sebagai monster, karena siap menghancurkan siapa saja yang mengusik bisnis atau usahanya.
Allah hadirkan ujian keterpurukan. selama 20 tahun, ia memiliki segalanya, selanjutnya ia terjatuh dan tidak memiliki apa apa. Usaha semua hancur, hutang menumpuk, kecantikan yang dibanggakan diuji dengan wajah yang penuh nanah, masalah keluarga datang bertubi, dan tidak mendapatkan kontrak kerja lagi.
Dengan mengucap Hamdalah, mbak Peggy mengungkapkan syukurnya, bahwa ia masih diingatkan untuk kembali pada Allah. Ia lalu kembali membaca Al Qur’an, memperbaiki sholat-sholatnya, baik yang wajib maupun yang sunnah, memperbaiki shiamnya dan meningkatkan sedekahnya. Ia mentafakkuri  apa yang sudah ia alami dan apa yang sudah ia lakukan. Dan berikutnya ia bertekad untuk memperbaiki diri, memperbaiki hubungan dengan Allah dengan menyegerakan mengerjakan apa yang diperintah Allah SWT.
Beliau berbagi cara beliau “hijrahku mengenal aku” adalah dengan menanyakan kembali kepada dirinya,
1.      Siapa aku? Aku hanyalah hamba Allah, tidak akan mampu jika Allah tidak Memampukan
2.     Dari mana asalku ? Dari Allah, misi penciptaan kita adalah beribadah kepada Allah
3.      Apa Tugasku ?Khalifatulloh, wakil Allah dimuka bumi jadi selayaknya kita hanya mengerjakan yang diperintahkan oleh Allah termasuk menjaga hubungan baik dengan sesama
4.     Kemana aku akan pergi ? Kembali pada Allah
Jadilah sosok Peggy Melati Sukma yang saat ini menjadi sosok yang sangat menginspiratif muslimah dengan sepak terjangnya di jalan dakwah. Kesan yang saya dapatkan dari pertemuan singkat kemarin adalah bahwa apa yang disampaikan selalu sarat makna dan memotivasi kita semua untuk terus meningkatkan ibadah kita. Karena pesannya ketika kita meningkatkan hubungan dengan Yang Maha segalanya, Mengutamakan Allah daripada urusan dunia, maka Allah akan Memudahkan kita menjalani kehidupan didunia.

Surabaya 12 Agustus 2016
Masjid Al Ikhlas, Palm Spring






Minggu, 15 Mei 2016

KONGKOW PARENTING CHAPTER 1
“ANAK KITA BUKAN KITA”
Bersama Bp. M. Ikhsan dan Bp. Munif Chatib



Alhamdulillah, berkesempatan mengikuti acara kongkow parenting bersama beliau berdua, menimba banyak ilmu praktis keorangtuaan. Karena memang sejauh ini, menjadi orangtua sejatinya haruslah menjadi pembelajar yang terus menerus, agar mampu mengemban amanah terbaik dari Allah SWT, yaitu ANAK.

Acara dibuka dengan sambutan Prof. Budi, Pembantu Dekan FISIP UNAIR sebagai tuan rumah. Sekilas beliau menyampaikan keprihatinan pada generasi muda saat ini, dengan mencontohkan perilaku mahasiswanya, beliau menyampaikan baru saja mengeluarkan nilai ‘E’ untuk 19 orang mahasiswanya yang memiliki tugas yang seragam..sama persis…

Berikutnya Pak Ikhsan, selaku kepala Dinas Pendidikan Surabaya, membuka acara ini dengan memaparkan beberapa fakta perilaku anak-anak hingga remaja di Surabaya yang selama ini menjadi ranah tanggungjawab Dinas Pendidikan. Disamping itu, beliau juga menyampaikan beberapa program yang telah dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Surabaya dalam upayanya memaksimalkan pendidikan karakter anak-anak hingga remaja di Surabaya.

Beberapa fakta yang mengejutkan (bagi saya) setelah kasus YY di Bengkulu dan kasus X di Surabaya, yang pelakunya ada yang masih kelas 3 SD, adalah, pola ‘interaksi pertemanan’ dengan lawan jenis yang sudah semakin intim dan vulgar serta kontrol sosial yang semakin lemah di Surabaya. jika dahulu, anak-anak mendapat sanksi sosial dengan mudah ketika berperilaku memalukan, saat ini, orang dewasa yang ada cenderung mengabaikan dan menganggap hal tersebut bukan menjadi tanggungjawab bersama.

Disamping itu, pihak pemkot dan dinas pendidikan Surabaya, selama ini secara rutin telah melakukan razia malam yang ‘menghasilkan’ anak-anak dibawah 18 tahun sukses terjaring sebanyak satu truk satpol PP. Ketika akan dikembalikan pada orangtuanya, banyak orangtua yang tidak mengakui bahwa salah satunya anaknya atau mereka memberikan data orangtua ‘palsu’.

Beberapa program yang sudah dijalankan oleh dinas pendidikan Surabaya adalah konselor sebaya. Konselor sebaya, adalah program yang mengaktifkan siswa untuk mampu menjadi teman curhat dan aware terhadap perubahan perilaku teman sebayanya. Hal ini diharapkan mampu meredam ‘kegalauan’ remaja yang sedang bermasalah agar tidak mencari pelampiasan pada hal-hal negatif dan membahayakan.

Disamping itu, dinas pendidikan Surabaya juga bekerjasama dengan BNN untuk aktif berkampanye anti narkoba dengan memasukkan kurikulum anti narkoba pada pembelajaran tematik yang ada. Satu lagi program yang telah berjalan hampir satu tahun adalah “kampunge arek suroboyo” dimana mencoba mengaktifkan kembali seluruh lapisan masyarakat agar mampu berperan sebagai ‘orangtua’ bagi setiap anak di Surabaya.
 
Pak Ikhsan menutup pemaparannya dengan peribahasa dari Arab “jangan mengharapkan bayangan itu lurus, jika barang aslinya bengkok”. Beliau menganalogikan bahwa orangtua adalah barang asli dan bayangan adalah anak, maka jika ingin memiliki anak yang baik, sukses, maka jadilah orangtua yang baik. Dan forum kongkow parenting adalah salah satu sarana belajar orangtua untuk berproses menjadi orangtua yang baik untuk anak-anaknya.

 Pembicara berikutnya adalah Bp. Munif Chatib. Pakar parenting yang sudah tidak asing dengan karya-karyanya yang fenomenal diantaranya “orangtuanya manusia”. Beliau membuka pemaparan materinya dengan menyampaikan kenapa forum parenting itu PENTING. Diantaranya adalah karena kebutuhan sekolah, kepentingan kinerja pekerja di perusahaan dan kebutuhan Negara Indonesia.

Parenting diawali adalah dengan mengenali anak kita. 
Dan pelajaran hari ini terdapat 9 poin yaitu :
1.       Anak kita bukan KITA. Puisi yang ditulis Khalil Gibran menjadi dasar renungan bagi kami sebagai peserta saat itu. Disamping itu Mendikbud kita, Bp. Anis Baswedan menyampaikan bahwa : anak-anak kita hidup di abad 21, orangtuanya hidup diabad 20 sedang sekolah-sekolah yang ada masih dengan sistem abad 19. Sungguh jurang yang harus disadari setiap orangtua, bahwa tantangan anak-anak kita berbeda dengan orangtuanya maka sebagai orangtua harus terus belajar memahami situasi untuk dapat menerapkan pola asuh yang tepat.
2.      Yakin, setiap anak memiliki potensi, bagaimanapun kondisinya. Pak Munif kembali menceritakan kisah yang sudah beliau sampaikan dibuku “orangtuanya manusia” yaitu kisah Achmad. Dimana Achmad adalah menyandang cerebral palsy yang membawa pengaruh sangat banyak bagi orangtuanya, sehingga orangtuanya berubah menjadi orangtuanya manusia, bertransformasi sebagai seseorang yang selalu mendekati Sang PenciptaNya.
Potensi seorang anak dapat muncul sebagai KEMAMPUAN anak atau muncul sebagai PENGARUH pada lingkungannya.
3.      Potensi itu BAKAT, fitrah dari TUHAN. Sifatnya terpendam, harus dipantik, dipengaruhi pola asuh serta ada kemungkinan tidak muncul jika tidak ada pemantik dan kesempatan yang muncul.
4.      Bakat, terkait dengan pemenuhan kebutuhan anak. Seorang anak dimungkinkan tidak memunculkan bakatnya dikarenakan belum terpenuhi kebutuhannya. Maka dari itu, orangtua haruslah peka terhadap kebutuhan anak.
5.      Bakat terlihat dari RASA SUKA. Kenali rasa suka anak akan suatu hal.
6.      Bakat biasanya memunculkan banyak SPECIAL MOMENT atau kejadian yang luar biasa.
7.       Bakat itu Pembelajar Cepat. Rasa suka yang ditemukan harus ditindak lanjutu dengan merumahakademiskan (ada silabus), jika dipelajari dengan cepat maka itulah abakat anak kita. Namun jika terhambat, jangan dipaksa.
8.      Orangtua harus menjadi KATALISATOR bakat anak. Berikan pengalaman yang menyenangkan pada anak-anak kita. Jangan terus melihat kelemahan anak.
9.      Sekolah harus menjadi Pengembang bakat anak.



Kongkow parenting juga diakhiri dengan sesi sharing dan Tanya jawab dari beberapa peserta. Banyak pelajaran yang didapatkan dari forum ini, semoga istiqomah, berkembang dan berkah. Amiin.


Kamis, 10 September 2015

Media Televisi, kawan ataukah lawan bagi keluarga? *

Diyana Rochmawati, S.Psi **




Televisi, sejak 30 tahun terakhir sudah bukan menjadi barang mewah bagi masyarakat Indonesia. Bahkan, saat ini setiap rumah atau setiap keluarga selalu memiliki televisi. Dan rata-rata televise yang ada merupakan telivisi dengan tekhnologi terkini.
Sudah lama terjadi perdebatan, tentang manfaat televise bagi keluarga. Sebagian pakar pendidikan menyajikan beberapa penelitian tentang bahaya televisi. Namun hal tersebut belum mampu menggoyahkan kebutuhan hiburan televisi dalam keluarga. AAP (American Academic Pediatrics) dalam salah satu jurnalnya menyarankan setiap anak diatas 2 tahun hanya boleh melihat televise maksimal 2 jam dalam sehari. Dan kesempatan 2 jam tersebut hanya boleh digunakan untuk melihat program-program yang mendidik dan membangun karakter anak.

Mengapa demikian?

Karena beberapa penelitian juga menyebutkan beberapa akibat buruk yang ditimbulkan apabila seorang anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama televise. 

Diantaranya :
1.       Gangguan konsentrasi. Televisi menyajikan berbagai macam spektrum warna dan perubahan tayangan yang begitu beragam durasinya. Bahkan disinyalir seorang anak hanya mampu mempertahankan perhatian, sesuai dengan durasi iklan.

2.       Gangguan bahasa. Beberapa tayangan televisi memperlihatkan dialog-dialog yang kurang dapat merangsang perkembangan bahasa seorang anak. Terutama tayangan film anak-anak yang dengan tokoh binatang.

3.       Obesitas. Dengan banyak menghabiskan waktu didepan televisi, seorang anak jarang melakukan aktivitas fisik (bergerak) dan ngemil. Hal ini yang dapat menimbulkan kasus obesitas pada sebagian anak-anak

4.       Gangguan relasi sosial. Kenyamanan berada didepan televisi, membuat anak hanya berinteraksi dengan televisi dan mengurangi kesempatan membangun relasi pertemanan dengan sebayanya. Ia menjadi canggung, kurang dapat mengawali pembicaraan atau mungkin kurang dapat berempati terhadap apa yang dirasakan temannya. Disamping itu relasi dengan anggota keluarga yang lain pun akan terganggu

5.       Gangguan Belajar. Secara tidak langsung, durasi melihat televisi yang lama akan membuat seorang anak kurang bersemangat untuk belajar atau mengulang pelajarannya, akibatnya prestasi sekolah akan menurun.

6.       Perilaku agresif. Tayangan-tayangan di televisi yang menyajikan kekerasan, jika tanpa pendamp[ingan akan ditelan mentah-mentah oleh anak yang menontonnya. Dan anak sebagai peniru ulung akan mempraktikkan apa yang dilihatnya tersebut

Demikianlah beberapa dampak buruk yang mungkin muncul jika kita tidak melakukan pembatasan atau pendampingan bagi anak-anak kita dalam memanfaatkan media televisi sebagai media hiburan yang tergolong murah saat ini.
Namun peniadaan televisi juga bukan solusi. Ketika kita semena-mena meniadakan televisi di rumah, sang anak akan dengan mudah mendapatkan televise, di fasilitas umum, atau di rumah temannya. Akan sama bahayanya jika kita tidak mengarahkan atau melakukan pendampingan.
Tidak dapat dipungkiri, beberapa content televisi masih kita butuhkan. Selain menghibur, kita juga harus pandai memanfaatkan televisi sebagai media pendidikan bagi anak-anak kita. Jadi yang diperlukan saat ini adalah pemilihan program yang tepat dan pendampingan yang intens.

*) disampaikan pada talkshow sam fm, 8 Sept 2015
**) Ibu rumah tangga, yang mencoba memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya di rumah.
Praktisi ilmu psikologi, yang saat ini masih terus belajar perkembangan ilmu psikologi.


Rabu, 06 Mei 2015

Syukur atas anak...

SYUKUR IBU...


Malam pun semakin larut…dan sayapun masih sulit memejamkan mata..
Teringat banyak hikmah yang ingin saya bagi dan menari—nari pada pengantar tidur saya malam ini..
Semua ini tentang kebaikan dan karunia Allah yang tiada terkira..
Terutama terkait dengan keberadaan anak-anak saya sebagai titipanNya
Segala Puji Hanya Bagi Mu Ya Allah...Allah Maha Pemurah & Pengasih..

Menjadi Ibu sejatinya adalah berkah tak ternilai bagi wanita karena masih banyak wanita yang belum berkesempatan dipanggil ibu..
Lebih jauh lagi ketika kita memandang anak-anak kita yang luar biasa, sehat lahir batin dan tidak menampakkan hambatan atau kelainan..sungguh itu adalah nikmat yang sangat tak terkira.

Sebagian ibu di percaya dengan anaknya yang mengalami ”autis”, anak dengan respon emosi yang meluap, relatif sulit berkomunikasi, kurang dapat mengelola emosinya, kurang dapat mengatur dirinya, dan banyak hal lainnya yang menurut saya menguji kesabaran ibunya..
Memandang anak-anak saya...alhamdulillah...mereka masih membalas senyum saya..menerima pelukan hangat saya, komunikatif dan memahami ketika kami saling bercerita serta cukup mampu mengembangkan relasi..
Betapa nikmat tak terkira dari Allah yang sepatutnya kita syukuri

Sebagian orang tua lagi dipercaya dengan anak-anaknya yang ”retardasi mental”. Apa sih itu..adanya penurunan usia atau kemampuan mental yang tidak sesuai dengan usia sesunggunhya. Misalkan anak dengan usia 8 tahun, tapi ia hanya dapat menguasai tugas-tugas usia 2 tahun atau 3 tahun. Dampaknya, jelas saja mereka akan mengalami kesulitan untuk mandiri, menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah serta tuntutan akademis, dan lain sebagainya. Bahkan kemarin saya menemui anak setingkat kelas 2 SMP belum dapat mengenal huruf satupun..
Sekali lagi..melihat anak-anak saya yang tumbuh dan berkembang sesuai usianya..sungguh satu nikmat besar lagi yang harus banyak kami syukuri. Sesekali mereka mengalami perlambatan penguasaan suatu tugas, namun dengan latihan, mereka mampu mengejarnya.
Maka Nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan..

Beberapa Ibu diberi amanah anak-anak dengan kecenderungan sulit diatur, berkata kasar, tidak pernah pulang atau bahkan terlibat tindak kriminal atau narkoba..
Suatu waktu, saya menjumpainya pada anak seusia anak saya yang besar yaitu kelas 6 SD. Pada usianya itu, setiap harinya ia pulang sekolah paling sore jam 10 malam, mengumpat dan berkata kasar pada orang tua, mencuri uang orang tua dan kakaknya, mulai merokok bahkan sekali tertangkap mencoba oplosan pil..
Hati orang tua mana yang tidak terluka...
Alhamdulillah....anak-anak saya masih sewajarnya anak-anak..masih memiliki ketakutan melanggar aturan.

Disinilah...ketika kita mungkin kesal dengan perilaku anak-anak kita (manusiawi), kita harus selalu mengingat...bahwa masih banyak kenikmatan, kelebihan pada anak-anak kita yang harus kita syukuri..

Allah pasti membekali setiap insan dengan kelebihan dan kelemahan, dan mengetahui ada beberapa anak yang mungkin dianggap ”kurang beruntung” seperti beberapa contoh diatas, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menyia-nyiakan anak-anak kita dan tidak mensyukurinya..

Sekalipun banyak rahasia Allah dibalik ujian para orangtua dengan anak-anak berkebutuhan khusus diatas, namun apa yang ada dihadapan kita saat ini, anak-anak yang sehat lahir batin, sudah seharusnya kita syukuri, sayangi, pelihara hingga Yang Mempercayakan memutuskan..


Wallahu A’lam...

06052015 ~ 00.47 Suatu malam menjelang ujian seminar ABK...


Kamis, 23 April 2015

TV, sebagai teman atau lawan?



Text Box: Televisi sebagai teman atau lawan bagi anak??

Beberapa hari yang lalu saya mendengar keluhan salah seorang guru TK tentang perubahan perilaku anak-anak dengan menirukan perilaku tokoh-tokoh kartun di televisi yang mengarah pada kekerasan. Dan sehari-hari sering kita melihat anak-anak berperilaku seperti yang ditayangkan di televisi. Hal ini cukup memprihatinkan ketika perilaku yang ada mengganggu dan menyakiti baik dirinya maupun orang lain.

Anak sebagai peniru ulung, pembelajar cepat tidak diragukan lagi. Dengan daya serapnya yang tinggi anak akan dengan mudah menerima, menyerap dan menyimpan berbagai informasi yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Apalagi, jika informasi tersebut mampu menyentuh area emosi anak, maka anak akan dengan cepat dan mudah menyerapnya. Ketika anak bahagia anak akan dengan mudah mempelajari sesuatu.

Terkait dengan acara televisi, yang sarat dengan gambar atau animasi yang menarik dan menyenangkan bagi anak, maka menjadikan anak bertahan menerima semua informasi. Dan ditunjang suasana hati yang menyenangkan, dapat kita bayangkan betapa anak akan dengan sukarela dan sepenuh hati menerima dan menyerap informasi yang ada.

Dan hal inilah salah satu tantangan bagi orang tua bagaimana menyikapi informasi yang disampaikan melalui televisi. Bagaimana setiap informasi yang diterima anak mampu mendukung perkembangan anak. Bagaimana orang tua membimbing anak untuk mampu cerdas memilih info yang tepat untuk usianya dan mengambil makna yang positif serta mengoptimalkan perkembangan usianya.

Tidak mudah bahkan sebagian orang tua menganggap sangat tidak mungkin untuk tidak mengenalkan televisi pada anak. Yang terpenting disini adalah melakukan pendampingan dalam pengenalan televisi tersebut. Pendampingan itu tidak selalu harus difokuskan pada kehadiran ayah atau ibu ketika anak melihat televise, meski itu juga penting. Akan tetapi bagaimana orang tua selalu mengembangkan komunikasi dan diskusi tentang acara-acara yang dilihat oleh anak.

Diskusi yang mendalam sehingga menemukan pesan dari sebuah materi informasi yang ada di televisi akan membekali anak dalam memilah acara-acara televisi yang ada. Komitmen orang tua sangat penting dalam hal ini. Dan seperti dikatakan diatas bahwa anak sebagai peniru ulung, tidak menutup kemungkinan ketika kita memberikan contoh perilaku tidak terlalu terikat pada acara televisi anak pun akan melihatnya sebagai contoh dan akan ditiru.

Anak sebagai asset termahal orangtua sudah selayaknya dijaga..:)


Selasa, 14 April 2015

wanita mulia dimata Allah...



Kemuliaan seorang wanita menurut Al-Qur’an


Hasil gambar untuk gambar animasi ibu
Kita mungkin pernah membaca atau mendengar cerita tentang sahabat Nabi yang seorang pemberani, yang menerima julukan sebagai singa padang pasir yaitu Sayyidina Umar Bin Khattab RA. Mendengar keberaniannya, kecerdikannya, ketegasannya, keadilannya bahkan mungkin kelembutannya. Dan dibalik julukan sayyidina Umar yang tegas dan berani serta keras, beliau juga memperlihatkan sikap yang lembut dan tawadhu’ kepada istrinya.
Suatu waktu, seorang sahabat ingin mengeluhkan perilaku istrinya yang ”cerewet” kepada amirul mu’minin yang saat itu dijabat oleh sayyidina Umar. Namun ketika sampai didepan pintu rumah Sayyidina Umar, sahabat tersebut menyaksikan sang amir sedang diam dan mendengarkan dengan sabar sang istri yang saat itu mungkin sedang berbicara panjang (mengomel). Sahabatpun terdiam dan menanyakan kepada sang Amir, mengapa beliau hanya diam saja diperlakukan istrinya seperti itu, padahal sang Amir terkenal sebagai sosok yang tegas dan keras. Sayyidina Umar pun menjawab, ”aku tidak mungkin menganiaya istriku lagi dengan hujatan atau ucapan keras sebab ia telah :
1. Memasakkan makananku
2. Membuatkan kue untukku dan anak-anakku
3. Mencucikan pakaianku
4. Mengasuh dan menyusui anak-anakku ”
Apa yang dapat kita simpulkan dari cerita diatas adalah bahwa sayyidina Umar memuliakan istrinya dengan pekerjaan-pekerjaan yang terkait ”dapur, sumur dan kasur”. Pekerjaan-pekerjaan yang mungkin saat ini dipandang remeh dan melelahkan serta tidak mulia. Sesungguhnya wanita mulia dari pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Dalam Al Qur’an, QS Al Ahzab 33, Allah memerintahkan wanita (istri-istri nabi) hendaklah tetap di rumah, taat kepada Allah dan rasul serta dengan di rumah, Allah akan menghilangkan dosa-dosa kita.
Jelas bagi seorang wanita apalagi ibu, karir utama dan wajibnya adalah di rumah, sebagai pelayan utuh untuk keluarganya serta pendidik bagi anak-anaknya. Karir di luar akan menjadi sunnah jika memang sangat dibutuhkan untuk menopang ekonomi keluarga. Namun dapat menjadi mubah ketika hanya ditujukan untuk aktualisasi diri dan dapat menjadi haram ketika kita berkarir diluar banyak bersentuhan dengan lawan jenis dan mengganggu stabilitas keluarga.
Wahai para wanita...jangan ragu berkarir di rumah. Sebagai istri dan ibu bagi keluarga. Karena kemuliaan kita dihadapan Allah berada disana.

Ta’lim pagi bersama Ust. Jun,150415

Selasa, 31 Maret 2015

Ayah dalam pendidikan anak..



Ayah…kau sangat berarti…


Berbicara tentang pendidikan anak, tidak pernah ada habisnya dan objek utama selain anak adalah keterlibatan orang tua dalam mendidik ananda. Pendidikan, tidak hanya berbicara lembaga formal. Tapi juga berkaitan dengan perang orang-orang sekitar ananda, lingkungan, serta komitmen orang tua pada pendidikan ananda. Pesan Ki Hajar Dewantara : “Pokoknya pendidikan harus terletak dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasny, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas.” (Pendidikan, 382)

Nah…ayah…ayah pun memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses pendidikan ananda. Keterlibatan ayah sejak awal pada keberadaan dan kesejahteraan ananda memiliki dampak yang positif baik bagi ayah maupun bagi anak. Anak-anak yang cukup matang secara emosi, memahami bagaimana dan kapan mengekspresikan emosi secara tepat, dipengaruhi oleh keterlibatan ayah dalam proses pengasuhannya.

Ayah berperan sebagai figur, contoh dan panutan. Kehadiran ayah sangatlah penting bagi anak, bahkan sejak dalam kandungan. Ketika bayi mulai lahir, keterlibatan ayah dalam perawatan juga membuat terciptanya kelekatan hubungan antara ayah dan anak. Dan ini disinyalir akan membentuk karakter positif bagi ayah dan anak tersebut.

Ayah..juga berperan penting dalam menghapus buta huruf dini. Seorang ayah yang memiliki kesempatan dan waktu untuk membacakan sebuah cerita untuk anaknya akan merangsang anak untuk banyak bertanya, berdiskusi dan berkomunikasi. Hal inilah yang terpenting bagi perkembangan bahasa anak.

Dalam Islam, ayah memiliki peran pendidik dan penanggungjawab keluarga. Sebagai pendidik, ayah haruslah mengajak anak-anaknya untuk mengenal nilai-nilai, memberikan teladan bagaimana bersikap baik dan mengarahkan untuk menjadi pribadi yang nantinya mampu memberikan kemanfaatan bagi umat. Sebagai penanggungjawab, seorang ayah, bertanggungjawab sepenuhnya atas perilaku anaknya baik yang positif maupun yang negatif, secara hukum didunia dan diakhirat.

Jadi…seorang anak selalu membutuhkan sosok ayah..
Maka ayah…selalu jadi yang terbaik ya buat sang anak…
Semangaaattt...